Jumlah Lawatan KORANG ! Lawat BANYAK2 Lagi Tau!

Apa Ganjaran Pergi Masjid Sebenarnya??

Dari Ubai bin Kaab r.a katanya: “Ada seorang lelaki yang setahuku dialah yang paling jauh tempat tinggalnya dari masjid. Walaupun begitu dia tidak pernah ketinggalan bersolat jamaah. Kata orang kepadanya: “Alangkah baiknya jika kamu membeli seekor keldai untuk tunggangan kamu di malam gelap atau di panas terik”. Dia menjawab: “Aku tidak suka tinggal berdekatan dengan masjid kerana aku ingin supaya setiap langkahku pergi dan pulang dari masjid ditulis Allah pahalanya bagiku”. Sabda Rasulullah SAW : “Allah mengumpulkan pahala semuanya itu bagi mu”. (Muslim)
Begitu indah ‘panggilan Allah’ sehingga orang yang benar-benar beriman akan segera berganjak dari kesibukan mereka untuk segera menyahut panggilan-Nya. Demikian juga banyak sekali keutamaan yang diberikan kepada mereka yang memakmurkan rumah Allah (masjid). Maka sesuai dengan kemajuan hari ini juga, banyak surau-surau dan masjid yang cantik dibina bagi memudahkan kita untuk solat berjemaah. Apatah lagi jika surau atau masjid itu terletak berdekatan dengan kediaman kita. Tidak perlu kita berkenderaan untuk ke sana.
Namun kelazimannya manusia sentiasa tidak bersyukur di atas nikmat tersebut yang jika direnungkan amat ketara sekali pengabaiannya. Ini terbukti apabila kebanyakan masjid tinggal terbiar, sunyi sepi tanpa dimakmurkan oleh ahli kariah masing-masing sedangkan fungsi masjid amat luas iaitu selain menjadi tempat mendirikan solat ia juga berfungsi sebagai tempat untuk melaksanakan aktiviti ceramah, majlis ilmu, aktiviti kemasyarakatan dan sebagainya.
Hari ini apa yang menjadikan masjid meriah hanyalah jika tiba bulan puasa dan hari raya. Meskipun kedudukan masjid tidak jauh ternyata kita tidak tertarik untuk ke sana. Kata orang, hujan atau ribut tetap diharungi kerana hendak mematuhi peraturan kerja. Tetapi jika hendak ke masjid, meskipun tidak hujan, panas, jauh sekali ribut petir kita tetap tidak pergi ke masjid. Betapa kita menilai bahawa pemberian gaji dan pemberian pahala itu seakan sesuatu yang asing. Kerja untuk dunia dan solat untuk akhirat. Sedangkan kerja juga suatu ibadah yang ganjarannya selain datang dari manusia yang berupa gaji, ia juga datang daripada Allah yang dengan sifat Pemurah-Nya memberikan kita rezeki (melalui kerja tersebut) dan Dia jugalah yang memberikan kita pahala jika kerja itu diniatkan sebagai ibadah yang dilakukan kerana Allah.

Maka kita selaku manusia sewajarnya bersyukur kepadanya dengan datang beramai-ramai ke masjid untuk memakmurkan rumah-Nya yang sekalipun kita tidak diberi gaji untuk itu tetapi yang penting kita dikurniakan pahala dan keberkatan oleh-Nya. Bukankah itu sebaik-baik jalan bagi manusia menuju kesejahteraan hidup memandangkan bahawa bumi ini adalah milik Allah dan kita hanyalah makhluk yang kerdil yang menumpang sementara di atasnya. Justeru hidupkanlah masjid sebagai tempat untuk menunaikan ibadah secara berjemaah selain mendirikannya di rumah secara sendirian ataupun bersama keluarga


Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan telah bersuci untuk mengerjakan shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang sedang berhaji dalam keadaan ihram.” (HR Abu Dawud dari Abu Umamah al-Bahili)

Masjid adalah rumah Allah (Baitullah). Karena itu, pergi ke masjid sama dengan pergi ke rumah Allah, menjadi tamu-Nya, yang akan Dia jamu dengan hidangan yang paling baik. Rasulullah dalam hadis di atas bahkan menyebutkan bahwa keutamaan atau nilai pergi ke masjid sama dengan keutamaan orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Apa maknanya?

Haji adalah rukun Islam kelima. Dalam hadisnya, Rasulullah menyebutkan bahwa orang yang pulang haji seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya, “Siapa yang berhaji karena Allah, kemudian (selama berhaji) dia tidak berkata-kata kotor dan berbuat dosa, maka dia kembali dari haji seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya (bersih dari dosa).” (HR Bukhari dari Abu Hurairah). Dalam hadis lain, beliau bersabda, “Haji yang mabrur itu tidak ada balasan lain kecuali Surga.” (HR Nasai dari Abu Hurairah)

Haji wajib bagi orang yang mampu, seperti yang difirmankan Allah, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS Ali ‘Imran: 97). Allah Maha Tahu, tidak semua orang mampu pergi ke sana. Dengan kasih sayang-Nya, Allah memberikan pahala yang senilai haji bagi mereka ini, yakni dengan pergi ke masjid.

Pahala haji berkaitan dengan penghapusan dosa dan balasan Surga. Pahala pergi ke masjid juga demikian. Rasulullah bersabda, “Barang siapa pergi ke masjid untuk shalat berjamaah, maka satu langkah akan menghapus satu kesalahan, dan satu langkah akan ditulis sebagai kebaikan, baik ketika pergi maupun pulang.” (HR Ahmad dari ‘Amr bin al-‘Ash). Beliau juga bersabda, “Barang siapa senantiasa pergi ke masjid maka Allah akan menyiapkan sebuah tempat singgah baginya di Surga setiap kali ia melakukannya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Semua masjid di muka bumi ini pada hakikatnya adalah rumah Allah (Baitullah), tempat manusia beribadah hanya kepada-Nya. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah sesuatu pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS Al-Jin: 18). Maka, pergi ke masjid mana pun itu, ia sama dengan pergi ke rumah Allah, yang akan dihidangi dengan makanan berupa terhapusnya dosa dan terjaminnya masuk Surga. Dalam sehari semalam, ada lima panggilan azan dari masjid. Itulah seruan agar manusia pergi ke masjid untuk mendapatkan pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Wallahu a’lam.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan